Assalamualaikum, Wr. Wb
Hari ini, Sabtu 23 September 2017, adalah dead line
tugas 2 yang diberikan oleh Bapak Wijaya Kusuma selaku coach kami pada
pelatihan menulis online melalui WA.
Sejujurnya belum ada ide dan tema yang terlintas untuk saya tuliskan
pada tugas kali ini, entah memang dasarnya saya belum terbiasa menulis atau
memang ide untuk menulis kali ini buntu total, mungkin karena waktunya
bersamaan dengan deadline workshop literasi, dimana untuk mendapatkan
kesempatan mengikuti workshop ini kami diwajibkan mengirim naskah buku dengan
minimum 60 halaman, itupun masih harus diseleksi...alamakk...mmm 60 halaman
dalam waktu 5 hari...buat saya itu berattt jenderalll...seloroh beberapa teman
grup di wa, termasuk saya yg pemula ini juga merasakan hal yang sama. Jadi pada intinya saya harus tetap
menyelesaikan tugas dari Om Jay (panggilan kami untuk Bpk Wijaya). Sampai jam 13.00 sudah ada 10
tulisan lebih yang terkirim ke email om Jay, dan itu membuat saya
gemetarrr terlebih membaca karya teman teman yang diupload Om Jay di grup WA
kami, Subhanallah tidak bisa dikatanya “biasa” tulisan teman teman ini, dari
yang menulis dari hati yang paling dalam sehingga “pesan” nyapun sampai ke
dalam lubuk hati, hingga yang bahasanya “tingkat tinggi” yang membacanya pun
perlu konsentrasi ...O my God, semakin sadarlah diri ini bahwa ilmu menulis
yang dipunyai belum seujung kuku dibanding teman teman yang lain, menulis
adalah keterampilan yang tidak bisa “sim salabim”, orang yang terbiasa menulis
akan terlihat dari caranya menorehkan dan merangkai kata kata di atas kertas,
betapa alurnya teratur sesuai dengan alur berpikirnya, dan itu didapat dengan
berlatih lama, tekun, komitmen dan tidak mengenal lelah.
Jadi, disinilah saya, sampai pada waktunya untuk
saya membuat tulisan yang akan saya kirim untuk Om Jay. Seperti Om jay bilang, paling mudah menulis
adalah menulis dari keseharian atau dari pengalaman yang pernah kita jalani,
pernah kita lewati. Sayapun berpikir
inilah yang akan saya bagi kepada Om Jay sebagai latihan menulis saya di
pertemuan kedua ini.
15 tahun yang lalu saya berdua suami hijrah ke kota
metropolitan ini, mengadu nasib dengan berbekal ijazah yang kami punyai,
alhamdulillah suami mendapatkan pekerjaan di perusahaan farmasi sesuai dengan
bidangnya, sedang saya mendapat pekerjaan sebagai staff PPIC (Planning
Production and Inventory Control) disebuah perusahaan acrilic di kota ini,
dimana pekerjaan ini sangat tidak sesuai dengan ijazah yang saya punyai sebagai
seorang sarjana biologi, sering saya mengeluh bahwa saya harus belajar cepat
untuk pekerjaan ini karena seharusnya pekerjaan ini adalah “lahan” untuk orang
orang lulusan teknik Industri, belum lagi bos saya yang orang korea yang selalu
marah tiap hari dengan kami para staffnya yang membuat saya semakin tidak
nyaman bekerja di kantor ini. Tetapi suami selalu menguatkan, beliau selalu
bilang “ ini hanya sementara ya bunda” sampai nanti bunda mendapat pekerjaan
yang sesuai dengan minat bunda.
Terkadang ada rasa “sedih” di dalam hati, mau keluar dari pekerjaan
sepertinya tidak mungkin melihat “perekonomian”
kami yang masih “merangkak”, (saat itu kami masih mengontrak di sebuah
rumah sederhana), tapi untuk bertahan juga betapa beratnya. Dua tahunpun berlalu saya menguatkan diri
untuk bekerja di tempat tersebut sampai saya melahirkan si sulung. Setelah melalui masa cuti tiga bulan tiba
saatnya saya harus masuk bekerja kembali, rasanya berat ya Allah meninggalkan
bayi mungil saya di rumah seharian (saya dijemput jam 6 pagi, sampai rumah jam
7 malam) dengan seorang pengasuh rumah tangga.
Semakin sedih tiap hari saat pagi hari mobil jemputan dari perusahaan
sampai di kontrakkan kami (karena saya staff maka saya dapat fasilitas mobil
jemputan dari kantor untuk pulang pergi bekerja), dan bayi saya sedang asik
asiknya menyusui, saya pun harus melepaskan susuannya dengan paksa, karena
klakson mobil jemputan yang sudah tidak sabar untuk menunggu. Dengan diiringi
tangisan bayi kecil saya, saya pun berangkat kekantor dengan tangisan saya yang
juga berderai, sampai 2 minggu seperti itu hingga akhirnya saya sadar saya
harus “memilih”, ya memilih. Walaupun
terbayang bahwa nanti akan berkurang penghasilan padahal baru punya bayi yang
pasti membutuhkan banyak biaya. Bismillahirrohmanirrohim, dengan menyebut nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan ini.
Saat saya menyampaikan niat saya untuk resign dari
pekerjaan, alhamdulillah suamipun menyetujuinya, beliau mengatakan “ndak apa
apa bunda, nanti ayah akan bekerja lebih giat, InshaAllah kalau sudah rezeki
kita, tidak akan kemana”. Alhamdulillah
saya sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat pengertian. Satu bulan saya
menjadi full day mother, pada awal juli ada panggilan interview dari salah satu
sekolah SMA swasta di kota kami, alhamdulillah singkat cerita saya diterima
mengajar menjadi guru biologi honorer di
SMA tersebut, dengan penghasilan 1/7 dari penghasilan saya di tempat
kerja yang dulu, tetapi dengan jadwal mengajar seminggu hanya 3 hari sehingga
saya bisa lebih leluasa mengasuh anak saya.
Tapi anehnya walaupun penghasilan kami menurun drastis, saya tidak
merasa kurang, saya merasa sangat bahagia, tiap berangkat mengajar saya
bersemangat, mungkin ini yang dikatakan Allah sebagai “berkah”. Hal ini sangat saya syukuri, menurut saya ini
adalah anugerah luar biasa dari Allah untuk saya. Awal mengajar menjadi ujian
tersendiri buat saya, karena saya mengajar kelas 12 SMA, sedangkan saya sudah
lama tidak membuka lagi buku buku “pelajaran”, alhasil setiap hari sebelum
mengajar saya selalu “belajar” dulu di rumah, buat saya hal itu jauh lebih
mudah dibanding dengan dahulu saya harus melepaskan susuan anak saya dengan paksa.
6 Bulan
menjadi guru honor di SMA tersebut, ada pendaftaran CPNS di kota kami, saya
minta izin ke suami untuk mencoba peruntungan, suamipun mengizinkan, disaat itu
banyak teman yang bilang, “percuma ikut, ada yg sudah puluhan kali ikut juga
tidak lolos, kalau tidak punya koneksi atau uang jutaan mah ga akan lolos”. Saya hanya diam, saya pikir biarlah saya
mencoba, sembari selalu berdoa kepada yang kuasa, saya serahkan perjalanan
hidup saya dan keluarga saya padaNya, saya hanya berprasangka baik padaNya. Dan
mungkin memang rezeki anak saya kalau orang jawa bilang, alhamdulillah saya
lolos tes tersebut, dan alhamdulillah lolos dengan jalan yang juga lurus, dari
2 orang guru Biologi SMA yang dibutuhkan saat itu, saya salah satunya, saat
banyak orang bilang mustahil jadi PNS kalo tidak bayar berjuta juta, tetapi
nyatanya seperti itu yang saya alami, apalah kami, kami hanya orang perantauan
yang tidak punya saudara satupun di kota ini, apalagi uang puluhan juta. Allah
memang tidak tidur, dan Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hambanya.
Pengalaman memang guru yang paling baik, pengalaman
memang selalu indah untuk dikenang, mohon maaf
Om Jay saya jadi ngelantur, sebetulnya masih panjang cerita saya, lain
kali dilanjutkan ya Om jay, mengingat saya masih harus menyelesaikan naskah
buku literasi saya...hehehe. Semoga
sekelumit perjalanan hidup saya dapat diambil ibrahnya, saat kita berusaha
untuk “hijrah” ke arah yang lebih baik, hijrah dengan alasan yang lebih baik,
tidak usah ragu, Allah akan selalu bersama kita.
Jangan takut tidak punya rizki, tapi takutlah tak
punya berkah karena tak jujur dan tak sungguh sungguh di jalan Allah
menjemputnya, takutlah tak punya syukur saat sudah mendapatkannya, dan takutlah
tak punya sabar ketika sedang ditahan atau disempitkan rezekinya. Dan satu hal
lagi selalu berprasangka baik lah kepada Allah, karena Allah sesuai dengan
prasangka hamba hambaNya.
Wassalamualaikum,
Wr.Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar